Zakat Fitrah dan Zakat Mal, Apa Bedanya?

Jakarta | Zakat termasuk dalam salah satu di antara kelima rukun Islam. Dan disebutkan sebanyak tiga puluh kali dalam Al-qur’an serta hadits Nabi Saw.

Allah Swt berfirman,

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

Artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)

Bahkan bagi orang yang mampu tetapi tidak mau berzakat, ada ancaman bagi mereka. Allah Swt berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim dan rahib-rahib mereka benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan (mereka) menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menginfakkan di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih. (Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam Neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35).

 

Dari ayat-ayat Al-qur’an tersebut, zakat sangatlah penting bagi setiap muslim yang mampu melaksanakannya. Zakat pun ada dua jenis bentuknya yaitu zakat fitrah dan zakat mal.

 

Berikut ini beberapa perbedaan mengenai zakat fitrah dan zakat mal:

 

1. Zakat Fitrah

 

Diriwayatkan dalam sebuah hadits:

“Baginda Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam mewajibkan zakat fitrah di bulan Ramadhan kepada manusia yaitu satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum kepada setiap orang merdeka, budak laki-laki atau orang perempuan dari kaum Muslimin.” (HR. Bukhari Muslim)

Zakat fitrah ditunaikan sesuai bahan pokok di daerah setempat. Di Indonesia, satu sha’ setara dengan dua setengah kilogram beras per orang. Ada juga yang berpendapat 2,7 kilogram.

2. Zakat Mal

 

Menurut Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) zakat mal adalah zakat harta. Zakat mal yang dimaksud dalam perhitungan ini adalah zakat yang dikenakan atas uang, emas, surat berharga dan aset yang disewakan.

Dikutip dalam ‘Zakat Sebagai Ketahanan Nasional” oleh Sony Santoso dan Rinto Agustino, menjelaskan mengenai kekayaan yang wajib dizakati menurut Yusuf Qadhawi (Yusuf al-Qardhawi, Fiqhus Zakat, Op, Cit, halaman 21) :

– Zakat binatang ternak
– Zakat emas dan perak
– Zakat dagang
– Zakat pertanian (tanaman dan buah-buahan)
– Madu dan produksi hewan
– Barang tambang dan hasil laut
– Investasi pabrik, gedung
– Zakat pendapatan usaha (profesi)

Uraian di atas bisa disimpulkan bahwa pada dasarnya setiap harta kekayaan yang produktif dan bernilai ekonomis apabila mencapai nishab maka wajib dikeluarkan zakatnya.

Seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqarah: 267:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Open chat