Kisah Baitul Mal dan Perkembangannya Dalam Peradaban Islam

Baitul Mal merupapan lembaga keuangan berdasarkan syariah.

BMK Aceh Utara | Baitul Mal tidak bisa dipisahkan dari peradaban Islam. Secara harfiah, Baitul Mal bermakna ‘Rumah Harta’

Makna tersebut memang sejalan dengan fungsinya. Sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW, Baitul Mal difungsikan sebagai tempat penyimpanan harta yang didapat serta dialokasikan untuk umat Islam.

Dikutip dari Bincang Syariah, Baitul Mal berdiri di zaman Rasulullah masih hidup. Baru pada 13-23 Hijriah atau sektiar 634-644 Masehi, tata kelolanya dibenahi oleh Umar bin Khattab yang menjabat sebagai Khalifah setelah Abu Bakar.

Abul A’la Al Maududi menyatakan Baitul Mal merupakan lembaga keuangan yang dibangun dengan landasan syariah. Keberadaan lembaga ini merupakan amanah dari Allah dan umat Islam sehingga harus dijalankan sesuai syariat.

Di masa awal peradaban Islam, lembaga ini difungsikan sebagai kas negara. Harta yang terkumpul di dalamnya digunakan untuk kemaslahatan umat, termasuk menggaji pejabat.

Ketika Umar Melihat Khalifah Abu Bakar Akan Berdagang

Hal ini bisa ditemukan dalam sebuah riwayat ketika Abu Bakar As Shiddiq bertemu dengan Umar bin Khattab. Saat menjabat sebagai khalifah, Abu Bakar kedapatan membawa sejumlah barang ke pasar untuk berdagang.

Heran melihat Abu Bakar, Umar lalu bertanya kepadanya, ” Hendak ke mana engkau, wahai Amirul Mukminin?” Abu Bakar pun menjawab, ” Ke Pasar.”

Seketika, Umar mengingatkan Abu Bakar adalah seorang pemimpin. Tidak sepantasnya seorang pemimpin berdagang di pasar.

” Dari mana aku akan memberikan nafkah untuk keluargaku?” tanya Abu Bakar.

” Pergilah kepada Abu Ubaidah (pemegang kunci Baitul Mal), agar ia menetapkan sesuatu untukmu,” kata Umar.

Abu Bakar mengikuti perkataan Umar. Kemudian, Abu Ubaidah menetapkan upah Abu Bakar sebagai Khalifah sebesar 4.000 dirham selama setahun.

Riwayat ini menunjukkan bagaimana pentingnya peran Baitul Mal bagi umat Islam.

Baitul Mal di Masa Kekhalifahan

Selama masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Umar, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, Baitul Mal dikelola sangat hati-hati. Masyarakat pun bisa mengontrol penggunaan harta di Baitul Mal.

Kondisi berubah sejak Dinasti Umayah berkuasa. Para penguasa memanfaatkan harta Baitul Mal untuk kepentingan pribadi, baik itu dari zakat maupun setoran pajak.

Ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz, situasi ini diubah total. Dia bersihkan Baitul Mal dari harta tidak halal dan mengembalikan aset pribadinya sebesar 40 ribu dinar ke lembaga tersebut.

Sayangnya, situasi tersebut tidak berlangsung lama akibat keserakahan penguasa dan rongrongan pengusaha. Permufakatan jahat dibuat hingga merugikan umat Islam.

Al Maududi juga menjelaskan Baitul Mal didirikan guna menopang tujuan negara yaitu menegakkan keadilan, menghilangkan kezaliman. Selain itu untuk menyusun sistem yang berkaitan dengan kewajiban umat Islam seperti zakat, haji dan lain sebagainya.

Al Mawardi punya pandangan lain. Baitul Mal adalah lembaga yang didirikan untuk mengelola harta umat Islam yang tidak jelas pemiliknya dan penerimnya. Sehingga, Al Mawardi menilai Baitul Mal lebih tepat disebut lembaga keuangan.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.